Sabtu, 18 Juni 2011

Ketika Rumah Tangga tanpa Cinta


Ketika Rumah Tangga tanpa Cinta


Urgennya Cinta Dalam Rumah Tangga
Rumah tangga laksana istana bagi sepasang kekasih. Istana yang akan melindungi mereka dari serangan problematika, istana yang akan menaungi mereka dari panasnya sengatan matahari cobaan, dan istana yang akan memberikan kehangatan saat dinginnya udara rintangan menghempasnya.
Sungguh besar peranan rumah tangga dalam melindungi sepasang kekasih dan gangguan-gangguan eksternal. Akan tetapi, peranan rumah tangga akan semakin maksimal ketika kedua kekasih memiliki ikatan kokoh yang berpondasikan cinta. Karena hakikat ikatan suami istri adalah kerjasama, saling mengasihi, dan saling mencinta. Ketika cinta pudar, maka ikatan mereka pun renggang dan tidak mampu menghadapi cobaan-cobaan yang menghadang.
Bahkan, ikatan suami istri yang tidak berpondasikan cinta akan menumbuhkan hubungan yang tidak dinamis dan melahirkan berbagai persoalan dari dalam rumah tangga mereka. Akhirnya, pertahanan mereka sudah lemah sebelum menghadapi serangan eksternal. Yang akhirnya, jurang perceraian pun tak bisa mereka hindari.
Ibnul Qayyim v berkata dalam menjelaskan urgennya cinta suami istri dalam rumah tangga, “ “Ketika cinta suami istri semakin kuat dan sempurna, maka tujuan dari menjalin ikatan pernikahan semakin sempurna pula.” Tujuan menikah adalah menjaga kesucian dan meraih sakinah.
Cinta dalam rumah tangga ibarat poros kehidupan dan makanan utamanya. Ketika rumah tangga kehilangan cinta, maka suami istri akan merasakan kehidupan yang gersang dari kasih sayang, kelembutan, ketenangan, dan ketentraman. Bahkan, dipenuhi dengan kekakuan dan mereka seperti minyak dan air yang berusaha diletakkan dalam satu bejana.
Perselisihan antara suami istri pasti terjadi. Dan perselisihan antara mereka berdua itu ibarat sepercik api dan akan terus membesar hingga membakar seisi rumah, jika tidak lekas dipadamkan dan cintalah yang akan memadamkannya.
Setelah mengetahui pentingnya cinta dalam rumah tangga, apa sebenarnya cinta dalam rumah tangga itu?
HAKIKAT CINTA DALAM RUMAH TANGGA
Cinta adalah cinta. Itulah definisi yang pas yang kita berikan kepada “cinta”. Tidak ada ungkapan lain yang bisa menjelaskan hakikat cinta kecuali kata “cinta” itu sendiri.
Adapun hakikat cinta dalam keluarga adalah kecenderungan hati kepada kekasih karena adanya kecocokan setelah melihat keindahannya atau kesempurnaan sifat-sifatnya, adanya kecocokan batin dengan kekasih, dan ketika sang kekasih berbuat baik kepadanya, kemudian kecenderungan tersebut melahirkan sesuatu yang luar biasa seperti penyerahan diri kepada kekasih, selalu mengingatnya, menunaikan hak-haknya, selalu mengharapkan pertemuan dengannya, hatinya dipenuhi dengan bayang-bayangnya, dan lain sebagainya, dan akan menuntun mereka menuju terminal akhir yaitu sakinah dalam firman Allah,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (yaitu sakinah.pen), dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” ( Ar Rum :21)
RUMAH TANGGA TAK BERPONDASIKAN CINTA?
Meskipun sepasang kekasih tinggal satu atap, satu rumah, dan satu keluarga, mereka berdua pasti memiliki titik-titik perbedaan, kekurangan-kekurangan, dan tabiat-tabiat yang tidak disukai oleh pasangannya. Terkadang, ada cara makan dan minum, berbicara, tidur, dan seabrek perilaku lainnya yang tidak disukai pasangan.
Oleh karena itu, terkadang ada suami atau istri yang tidak atau belum mencintai pasangannya. Mereka butuh waktu untuk menumbuhkan benih-benih cinta antara mereka berdua. Karena cinta adalah perkara hati yang seseorang tidak memiliki kekuasaan untuk seenaknya mengontrol hatinya. Rasulullah b berkata setelah berusaha adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, “Ya Allah, inilah kemampuan saya dalam bermuamalah dengan istri, janganlah Engkau mencelaku atas sesuatu yang Engkau miliki dan tidak aku miliki.” Turmudzi berkata dalam menafsirkan hadits ini, “Maksudnya adalah cinta dan kasih sayang.”
JIKA RUMAH TANGGA TAK BERPONDASIKAN CINTA …
Jika rumah tangga anda belum dihiasai pohon-pohon cinta yang menebar kesejukan, maka jangan terburu-buru membuka pintu perceraian atau merasa pesimis dengan kebahagiaan keluarganya. Dia harus ingat, bahwa cinta itu terlahir ketika ada kecocokan setelah melihat keindahan kekasih dan keluhuran sifat-sifatnya, ada kecocokan batin, dan setelah mendapatkan kebaikan dari sang kekasih.
Untuk meraih 3 faktor tersebut, tentu membutuhkan waktu dan usaha-usaha yang harus ditempuh oleh suami istri. Di antara langkah-langkah yang harus ditempuh adalah:
-          Seorang suami atau istri harus bisa memahami perbedaan antara mereka berdua yang terkadang saling berbenturan seraya diiringi dengan penunaian hak dan kewajiban kedua belah pihak.
-          Seorang suami atau istri harus menjauhi dosa dan maksiat, karena dosa dan maksiat adalah sebab utama timbulnya kebencian dan matinya cinta. Salah seorang ulama salaf berkata, “Ketika aku berbuat maksiat kepada Allah l, aku mendapatkan pengaruh maksiat pada perubahan sifat istriku yang mulai membenciku”. Di antara dosa dan maksiat yang sering di lakukan adalah tidak menunaikan hak dan kewajiban suami istri.
-          Suami harus pandai merengkuh hati sang istri dengan berlemah lembut, membuka pintu maaf untuk kesalahan-kesalahan istri khususnya masalah duniawi, menjaga penampilan dan kebersihan, menyempatkan diri untuk duduk mesra, memahami emosional wanita yang terkadang labil, menampakkan cintanya dengan perkataan dan perbuatan, saling membantu untuk beribadah kepada Allah, bercanda dengannya, meluangkan waktu untuk membantu pekerjaan istri, dan tidak mencela atau menyakitinya. Teladan dalam hal ini adalah Rasulullah b. Coba kita perhatikan, bagaimana usaha Rasulullah r dalam menumbuhkan cinta dalam rumah tangga.
Rasulullah b memanggil Aisyah dengan namanya yang paling bagus, beliau berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisy!”, dan terkadang memanggilnya dengan“Humaira’.
Imam Muslim v meriwayatkan dari hadits Aisyah ia berkata, “Rasulullah b mencium salah satu istrinya sedangkan beliau b sedang puasa, kemudian Aisyah tersenyum”, maksudnya Rasulullah b mencium dirinya.
Rasulullah mengungkapkan cintanya dengan lisan, Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, aku bagimu seperti Abu Zar’in kepada Ummu Za’in (yaitu dalam cinta).”
Rasulullah b bercanda mesra dengan istri-istrinya, Imam An Nasa’i meriwayatkan  hadits dari ‘Aisyah x beliau berkata, “Pada suatu hari, Saudah mengunjungi kami dan Rasulullah b duduk di antara kami berdua dan meletakkan kaki beliau di atas pangkuanku dan pangkuannya, aku pun membuat makanan dan aku memerintahkan Saudah untuk memakannya, akan tetapi dia enggan, lalu aku berkata kepadanya, “Makanlah, atau aku akan melumurkannya ke mukamu”, maka aku lumurkan makanan tersebut ke mukanya, kemudian Rasulullah mengangkat kakinya dari pangkuan Saudah agar dia membalas perlakuanku tadi, maka dia pun mengambil makanan dan melumurkannya ke mukaku, dan Rasulullah b  tertawa.”
-          Sang istri pun harus berusaha merengkuh hati sang suami dengan menyambut kedatangan istri dengan kehangatan, berhias untuknya, bercanda dengannya, memuji dan mensyukuri kebaikannya, bersegera minta maaf kepadanya ketika berbuat salah, taat kepadanya, dan membantu meringankan pekerjaan suami. Di bawah ini beberapa wanita teladan dalam berusaha menumbuhkan benih-benih cinta dan menjaga kelestariannya.
Istri Abu Muslim Al Khaulani ketika suaminya datang, maka dia langsung menyambutnya,  menanggalkan pakaiannya dan sandalnya, kemudian menghidangkan makanan kepadanya.
Coba perhatikan bagaimana Shafiyah dan ‘Aisyah bekerjasama untuk meraih kecintaan Rasulullah b. Suatu hari Rasulullah b marah kepada Shafiyah, lalu Shafiyah berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, bersediakah kamu mengambil giliranku agar Rasulullah b meridhaiku?.
-          Berdoa kepada Allah agar ditumbuhkan benih-benih cinta di rumah tangganya atau meminta kepada orang-orang shalih untuk mendoakannya. Seorang wanita mendatangi Rasulullah b dan mengeluhkan suaminya, maka Rasulullah b bertanya kepadanya, “Apakah kamu membencinya?”,  Wanita tersebut, “Ya”. Lalu Rasulullah berdoa untuk mereka berdua, “Ya Allah satukan hati mereka, tanamkan kecintaan di antara mereka berdua.” Akhirnya mereka berdua pun saling mencintai.
Setelah langkah-langkah di atas di tempuh, dan belum membuahkan hasil, maka jangan langsung menempuh jalan perceraian, akan tetapi masing-masing pihak berusaha memberikan kasih sayang kepada pasangannya, dengan harapan akan tumbuh benih-benih cinta antara mereka berdua.
Hal ini berdasarkan sebuah hadits, seorang lelaki mendatangi Umar bin Khattab ingin bermusyawarah mengenai keinginannya untuk menceraikan istrinya, maka Umar berkata kepadanya, “Jangan kamu ceraikan dia!” Lelaki tersebut menjawab, “Aku tidak mencintainya.” Umar berkata, “Apakah setiap pernikahan itu didasari cinta? Manakah kasih sayangmu? Jika kamu tidak mencintainya maka kasihanilah dia, kecuali jika kamu tidak menginginkannya dan tidak mencintainya dan dia meminta cerai, maka ini adalah perkara lain.”
Jika tidak tumbuh benih-benih cinta juga, bahkan tidak mungkin mempertahankan keutuhan rumah tangganya, maka tidak mengapa menempuh jalan perceraian, dengan syarat setelah menempuh tiga langkah dalam menyelesaikan problematika yaitu nasihat, pisah ranjang, dan pukulan yang mendidik.
Ingatlah … , cinta dalam rumah tangga bisa berpahala jika dibangun di atas cinta karena Allah dan tidak mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.Wallahu A’lam.
Oleh: Ustadz Agus Abu Aufa

Jumat, 25 Februari 2011

WANITA YANG MULIA DISISI ALLAH SWT


WANITA MULIA.....................
Saya sering kali mendengar keluhan wanita “ mengapa aku di jadikan sebagai perempuan”. Saya juga pernah terlintas di fikiran suatu ketika dahulu “mengapa allah jadikan aku sebagai wanita”. Bagi saya pada waktu itu perempuan ini lemah malah selalu di tindas kaum adam. Tetapi kini, apa yang pernah terlintas di fikiran saya dahulu amat saya sesali. Subahanallah, betapa sekarang saya amat berbangga menjadi seorang wanita malahan bangga digelar kaum hawa. Bagi saya wanita itu mulia di sisi Allah. Percayalah kaum hawa islam tidak pernah menindas wanita malah wanita itu di sering di puja. Hakikatnya mengapa sering kali keluhan yang sering di dengar dari mulut kaum hawa kerna di cipta menjadi wanita. Sedarlah saudaraku betapa hebatnya kedudukan kita sebagai wanita. Islam telah menjanjikan martabat yang tinggi kepada wanita sekiranya kita patuh dan taat padanya. Insyallah semua janji allah itu benar percayalah kaum hawa sebagai wanita kita adalah makhluk yang mudah mendapat ganjaran pahala jika kita beriman kepadanya. Hadis rasulullah SAW menyebut bahawa:Wanita sekiranya dia sembahyang lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, menjaga auratnya serta taat pada suaminya maka pilihlah mana-mana pintu syurga yang dia kehendaki. ( Riwayat dari Ahmad Ibnu Hibban, Thabarani, Anas bin Malik). Rasulullah menegaskan tiap-tiap wanita yang taat pada suaminya dan menolong suaminya di dalam urusan agama maka masuklah dia ke syurga lebih awal dari suaminya sepuluh ribu tahun kerana di dunia dia memuliakan suaminya maka di akhirat Allah memuliakannya kembali, dengan mendapat pakaian dan bau-bauan syurga untuk turun ke mahligai suaminya dan mengadapnya. Malahan bukan itu sahaja, segala jerih perih isteri yang mengandungkan zuriat suaminya mendapat pengitirafan yang amat tinngi. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: Apabila wanita mengandungkan janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya, Allah mencatatkan kepadanya setiap hari seribu kebaikan dan menghapuskannya seribu kejahatan. Rasululah SAW bersabda lagi yang bermaksud:Apabila wanita mulai sakit untuk bersalin, Allah mencatat baginya pahala orang yang berjihad di jalan Allah (perang sabil) dan apabila wanita melahirkan anak maka keluarlah dosa-dosanya dari serpeti ibunya melahirkannya. Subhanallah, maha suci Allah betapa besarnya anugerah yang Allah berikan terhadap kaum wanita. Betapa saya amat kagum dan malu terhadap Allah kerna pernah mempertikaikan kenapa saya di cipta menjadi kaum hawa sedangkan takdir Allah itu ada hikmahnya. Mengikut perspektif islam, wanita adalah perlengkap bagi lelaki sekaligus memelihara kesimnambungan ciptaan Allah SWT. Malah Rasulullah mermatabatkan kaum hawa pada kaca mata islam sebagai perhiasan dunia yang paling indah dan unik. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “ dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan yang paling indah adalah wanita yang solehah.” Hadis riwayat muslim. Hadis ini jelas menunjukan betapa islam memandang tinggi terhadap kaum wanita. Di dalam al quran pula wanita di gambar kan dengan tiga fungsi penting:- pertama: wanita di anggap sebagai fitnah dan musuh andainya dia tidak di didik dan di asuh serta di bentuk mengikut acuan islam. Kedua: wanita juga ujian bagi seorang lelaki dalam menerajui bahtera kehidupan kearah kebahagian dan kesejahteraan hidup. Ketiga: wanita adalah anugerah yang teristimewa kepada lelaki yang mendambakan kemesraan dan kebahagian hidup.
Islam menganjurkan setiap lelaki yang ingin melangkah kealam perkhawinan agar berhati-hati memilih calon isteri ini kerana kriteria calon isteri itu penting di titik beratkan bagi menjamin keharmornian, kerukunan dan kebahagiaan rumahtangga. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “ janganlah kau nikahi wanita kerna kecantikannya, kelak kecantikannya akan membinasakannya; janganlah kamu nikahi wanita kerna hartanya, boleh jadi hartanya menyebabkan kerdehakaanmu; sebaliknya nikahi wanita yang beragama, sesungguhnya wanita yang tidak berhidung dan tuli tetapi beragama, itu lebih baik kepadamu” - hadis riwayat Abdullah ibn Humaid. Hadis ini menjelaskan, aspek keagamaan dalam diri seorang isteri adalah penentu hala tuju sesebuah rumah tangga yang dibina dan dibentuk. Agama yang bertapak kukuh dalam jiwa akan mendorong ketaatan pada suaminya pada semua perkara yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan tidak pula mendatangkan kemudaratan kepadanya. Isteri yang solehah akan menjaga maruahnya dan sewaktu ketiadaan suaminya dia akan menjaga dirinya serpeti tidak keluar rumah tanpa izin suaminya serta tidak menerima tetamu yang tidak di kenali dan sebagainya. Ketaatan seorang isteri solehah ini banyak di pengahruhi oleh firman Allah yang bermaksud “....perempuan yang solehah mestilah taat dan menjaga kerhormatan dirinya semasa ketiadaan suaminya dengan perlindungan Allah....” surah an Nisa ayat 34. Isteri solehah juga adalah isteri yang sentiasa menyempurnakan kerperluan suaminya, disamping sentiasa memelihara keredhaannya pada setiap masa dan keadaan. Ini kerna keredhaan suami merupakan anak kunci utama yang melayakannya menjadi penghuni syurga penuh kenikmatan. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “mana-mana isteri yang meninggal dunia, sedang suaminya redha kepadanya, nescaya isterinya akan masuk syurga.” – hadis riwayat Al Hakim dan Tirmizi. 

Yang paling penting isteri yang solehah adalah menjadi pendidik dan pengasuh yang terbaik terhadap anaknya. Anak yang menerima bimbingan yang baik akan menjadi aset yang paling penting bukan sahaja kepada ibubapa malahan kepada masyarakat dan negara.Betapa besarnya fungsi seorang wanita yang bertindak sekaligus sebagai isteri dan ibu solehah dalam sesebuah institusi keluarga. Justeru Allah menganugerahkan ganjaraan syurga bagi wanita solehah yang beriman dan benar-benar melaksanakan tanggungjawab sebagai seorang isteri dan ibu dalam kehidupan sehariannya. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “ sebaik-baik wanita itu adalah wanita yang melahirkan anak, yang penyayang, yang memelihara kehormatannya, yang mulia pada kaca mata keluarganya, yang menghormati suaminya, menghias diri hanya untuk suami tercinta, memelihara diri dari pandangan orang lain, yang mendengar kata- kata suaminya dan mentaati segala perintahnya. Apabila bersama suaminya dia memberikan apa saja yang di perlukan suaminya dan dia tidak pula menolak ajakan serta tidak merendah-rendahkan atau menghina kedudukan suaminya di hadapan orang lain.” – hadis riwayat Al Tausi.
Sejarah Islam sebenarnya melahirkan ramai personaliti wanita yang mampu menjadi teladan kepada wanita-wanita dewasa ini.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“ ada empat wanita mulia yang menjadi penghulu segala wanita di dunia; mereka itu ialah, Asiah binti Muzahim, isteri firaun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwalid, isteri Rasulullah SAW; dan Fatimah binti Muhammad, puteri kesayangan baginda.” – hadis riwayat Bukhari.
Asiah adalah simbol teladan kepada wanita yang beriman kerna mempertahankan keimanannya walaupun suaminya ( firaun) di murka Allah kerna tidak beriman. Walaupun hidup sebumbung dengan suaminya tetapi keimanan yang terpahat kukuh di dalam hati dan sanubarinya tidak mampu digoyahkan oleh firaun walaupun diseksa dan dipenjarakan.
Maryam pula adalah simbol wanita dalam ibadahnya dan ketinggian darjat ketaqwaannya kepada Allah serta mampu menjaga kesucian diri dan kehormatannya ketika mengabadikan diri kepada Allah. Walaupun pelbagai ujian yang beliau hadapi malahan tomahan masyarakat pada masa itu tetapi beliau tetap beriman kepada Allah.
Khadijah pula adalah simbol isteri yang solehah yang setia tanpa mengenal penat lelah mendampingin suaminya menegakkan panji-panji kebenaran islam, berkorban jiwa dan raga serta hartanya untuk suami tercinta serta rela menghadapi pelbagai cabaran dan risiko dalam menyebarkan risalah Islam yang diamanahkan kepada Rasulullah SAW.
Fatimah pula adalah simbol pelbagai dimensi wanita solehah; anak yang solehah dan taat di hadapan ayahandanya; isteri yang setia dan taat di hadapan suaminya serta ibu yang bijaksana di hadapan putera dan puterinya. Dia juga adalah ketua segala wanita, setiap detik yang beliau lalui wajar menjadi ikutan wanita hari ini.

Selain wanita mulia yang digambarkan diatas, saya juga mengagumi wanita yang tabah dan cekal hatinya malah taat pada suaminya, mereka ialah; Sumaiyah, seorang wanita yang diseksa kerna keimanan yang terpahat hanya Allah dihatinya sehingga sakit seksaan yang di hadapinya tidak terasa bertapa cintanya kepada Allah;
Siti Hajar, seorang isteri yang taat kepada suaminya yang sanggup di tinggalkan di padang pasir tanpa air membawa anaknya Ismail, kerna keimanan di hatinya dan percaya Allah sentiasa berada di sisinya untuk membantunya;
Siti Mutiah, seorang isteri yang solehah dan taat kepada suaminya, wanita pertama yang masuk kesyurga kerna sentiasa mendambakan redha suaminya, beliau adalah wanita yang dipuji Rasulullah dan di kagumi Fatimah;
Rabia’atul Adawiyah, seorang wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam, sejak kecil lagi rabiah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan tinggi serta keimanan yang mendalam. Beliau juga tidak terlepas dari di ujian bertujuan menguji keimanannya, namun dengan limpah hidayah Allah dengan asas keimanan yang belum padam di dalam hatinya, dia dipermudahkan Allah untuk kembali bertaubat.

AKHWAT SEJATI......

AKHWAT SEJATI ITU........
Seorang gadis cilik bertanya pada Ayahnya
“Abi…ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati”
Sang Ayah pun menoleh dan tersenyum seraya menjawab
Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dari
kecantikan hati yang ada dibaliknya.
Akhwat Sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tapi dilihat dari
sejauh mana Ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat Sejati bukan dilihat dari begitu banyak kebaikan yang diberikan, tetapi dari
keikhlasan Ia memberikan kebaikan itu.
Akhwat Sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dari
apa yang sering mulutnya bicarakan.
Akhwat Sejati bukan dilihat dari keahlIannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara.
Sang Ayah terdIam sembari menatap putrinya
“Lantas apa lagi Abi…?”
Ketahuilah putriku….
Akhwat Sejati bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia berani mempertaruhkan kehormatannya.
Akhwat Sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari
kekhawatirannya yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujIan yang Ia jalani, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia menghadapi ujian itu dengan Syukur.
Dan Ingatlah…!!!
Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari
sejauh mana Ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul.
Setelah itu Sang anak kembali bertanya
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu Abi…?”
Sang Ayah memberikan sebuah buku dan berkata
“Pelajarilah mereka!!”
Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan
“ISTRI PARA NABI”
Meski kita bukanlah salah satu dari Istri Nabi
Tapi meneladaninya adalah sebuah bentuk kecintaan kita terhadap
Allah SWT

PERHIASAN TERBAIK DUNIA ADALAH WANITA SHOLIHAH

Perhiasan Dunia Terindah Adalah Wanita Sholehah...

Sebuah berita gembira datang dari sebuah hadits Rosul bahwa Rosulullah Saw. Bersabda :
”Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad)
Di dalam Islam, peranan seorang istri memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan berumah-tangga dan peranannya yang sangat dibutuhkan menuntutnya untuk memilih kualitas yang baik sehingga bisa menjadi seorang istri yang baik. Pemahamannya, perkataaannya dan kecenderungannya, semua ditujukan untuk mencapai keridho’an Allah Swt., Tuhan semesta Alam. Ketika seorang istri membahagiakan suaminya yang pada akhirnya, hal itu adalah untuk mendapatkan keridho’an dari Allah Swt. sehingga dia (seorang istri) berkeinginan untuk mengupayakannya.

Kualitas seorang istri seharusnya memenuhi sebagaimana yang disenangi oleh pencipta-Nya yang tersurat dalam surat Al-Ahzab. Seorang Wanita Muslimah adalah seorang wanita yang benar (dalam aqidah), sederhana, sabar, setia, menjaga kehormatannya tatkala suami tidak ada di rumah, mempertahankan keutuhan (rumah tangga) dalam waktu susah dan senang serta mengajak untuk senantiasa ada dalam pujian Allah Swt.
flower
Ketika seorang Wanita Muslimah menikah (menjadi seorang istri) maka dia harus mengerti bahwa dia memiliki peranan yang khusus dan pertanggungjawaban dalam Islam kepada pencipta-Nya, Allah Swt. menjadikan wanita berbeda dengan pria sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an:
”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (QS. An Nisaa’ , 4:32)
Kita dapat melihat dari ayat ini bahwa Allah Swt. membuat perbedaan yang jelas antara peranan laki-laki dan wanita dan tidak diperbolehkan bagi laki-laki atau wanita untuk menanyakan ketentuan peranan yang telah Allah berikan sebagaimana firman Allah:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al Ahzab, 33:36)
Karenanya, seorang istri akan membenarkan Rasulullah dan akan membantu suaminya untuk menyesuaikan dengan prinsip-prinsip syari’ah (hukum Islam) dan memastikan suaminya untuk kembali melaksanakan kewajiban-kewajibannya, begitupun dengan kedudukan suami, dia juga harus memenuhi kewajiban terhadap istrinya.
Diantara hak-hak lainnya, seorang istri memiliki hak untuk Nafaqah (diberi nafkah) yang berupa makanan, pakaian dan tempat untuk berlindung yang didapatkan dari suaminya. Dia (suami) berkewajiban membelanjakan hartanya untuk itu walaupun jika istri memiliki harta sendiri untuk memenuhinya. Rasulullah Saw. Bersabda :
”Istrimu memiliki hak atas kamu bahwa kamu mencukupi mereka dengan makanan, pakaian dan tempat berlindung dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)
Ini adalah penting untuk dicatat bahwa ketika seorang istri menunaikan kewajiban terhadap suaminya, dia (istri) telah melakukan kepatuhan terhadap pencipta-Nya, karenanya dia (istri yang telah menunaikan kewajibannya) mendapatkan pahala dari Tuhan-Nya. Rasulullah Saw. mencintai istri-istrinya karena kesholehan mereka.
Aisyah Ra. suatu kali meriwayatkan tentang kebaikan kualitas Zainab Ra., istri ketujuh dari Rosulullah Saw.,
”Zainab adalah seseorang yang kedudukannya hampir sama kedudukannya denganku dalam pandangan Rasulullah, dan aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih terdepan kesholehannya daripada Zainab Ra., lebih dalam kebaikannya, lebih dalam kebenarannya, lebih dalam pertalian darahnya, lebih dalam kedermawanannya dan pengorbanannya dalam hidup serta mempunyai hati yang lebih lembut, itulah yang menyebabkan ia lebih dekat kepada Allah”.
Seperti kebesaran Wanita-wanita Muslimah yang telah dicontohkan kepada kita, patut kiranya bagi kita untuk mencontohnya dengan cara mempelajari kesuciannya, kekuatan dari karakternya, kebaikan imannya dan kebijaksanaan mereka. Usaha untuk mencontoh Ummul Mukminin yang telah dijanjikan surga (oleh Allah) dapat menunjuki kita kepada karunia surga.
Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda :
“Ketika seorang wanita menunaikan sholat 5 waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mematuhi suaminya, maka dia akan masuk surga dengan beberapa pintu yang dia inginkan.” (HR. Al Bukhari, Al Muwatta’ dan Musnad Imam Ahmad)
Wahai Muslimah yang tulus, perhatikan bagaimana Nabi Saw. menjadikan sikap ta’at kepada suami sebagai dari bagian amal perbuatan yang dapat mewajibkan masuk surga, seperti shalat, puasa; karena itu bersungguh-sungguhlah dalam mematuhinya dan jauhilah sikap durhaka kepadanya, karena di dalam kedurhakan kepada suami terdapat murka Allah Swt.
Wallahu a’lam bish showab..

Minggu, 05 Desember 2010

DO'A AKHIR DAN AWAL TAHUN

Sebentar lagi insya Allah akan kita tinggalkan tahun 1431 H. dan akan kita masuki tahun baru 1432 H. Untuk itu, ada ajaran do'a khusus di akhir tahun dan awal tahun. Do'a akhir tahun sebaiknya di amalkan setelah sholat ashar, hari terakhir bulan Dzul Hijjah, sedangkan Do'a awal tahun di amalkan setelah Sholat Maghrib.


Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa sallallaahu ‘ala sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa sahbihii wa sallam.Allaahumma maa ‘amiltu fi haazihis-sanati mimmaa nahaitani ‘anhu fa lam atub minhu wa lam tardahuu wa lam tansahuu wa halimta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubati wa da’autani ilattaubati minhu ba’da jur’ati alaa ma’siyatika fa inni astagfiruka fagfirlii wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardaahu wa wa’attani ‘alaihis-sawaaba fas’alukallahumma yaa kariimu yaa zal-jalaali wal ikraam,an tataqabbalahuu
minni wa laa taqta’ rajaa’i minkaa yaa kariim, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa ‘aalihii wa sahbihii wa sallam


Artinya:Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW,beserta para keluarga dan sahabatnya.Ya Allah,segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu,sedang kami belum bertaubat,padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya,dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.
Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan,semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.
Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad,keluarga dan sahabatnya.
Amin yaa rabbal ‘alamin.


DO'A AWAL TAHUN

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa ‘aalihi wa sahbihii wa sallam. Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwal, wa ‘alaa fadlikal-’azimi wa juudila-mu’awwali,wa hazaa ‘aamun jadidun qad aqbala nas’alukal ‘ismata fiihi minasy-syaitaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haazihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytigaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa zal-jalaali wal-ikraamin yaa arhamar-raahimiin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa ‘aalihi wa ashaabihii wa sallam
Amin yaa rabbal ‘alamin


Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarganya dan sahabatnya.
Amin yaa rabbal ‘alamin

Senin, 22 November 2010

DO'A...

Maha kehidupan, kalau sungguh bagi-Mu aku dilahirkan
Bukakanlah hati, telanjangkan dada Dunia
Agar senantiasa daripadanya aku menyusu
Menghisap tenaga dari sumber-sumber yang murni.

Kupaslah Matahari dari kelopak wasangnya
Biar tak lagi berkedip dalam menatap dunia
Nyalang bagi harimau serta silau bagi gelita
Terbuka bagi asap dan bunga api waktu.

Ya Allah…..
Karena cinta Engkau meletakkan 2 malaikat di pundakku.
Dan Engkau pun berkata,
“Inilah pengasuh-pengasuhmu yang sayap-sayapnya bisa membawamu
terbang ke langit sekaligus berpijak di bumi”

Ya Allah….
Pada Muhammad Kau anugrahkan kemuliaan…….
Pada Sulaiman kau limpahkan keberadaan………….
Kau tunjukkan keindahan-Mu melalui Yusuf dan cinta kasih-Mu melalui Isa……..

Di hati kekasih sejati pun Kau tanamkan kema’rifan.
Kau jadikan bintang-bintang selalu bertasbih pada-Mu…………
Kau ciptakan pepohonan tuk berzikir pada-Mu……
Dan Engkau membuat binatang-binatang bersalawat pada-Mu.

Ya Allah……
Dalam sujudku, Ku usung berbagai harapan yang kan menenangkan batin ini.
Ya Allah….. Ya Tuhanku…….
Segala rasa dan asa ku pertautkan kepada-Mu.

Ya Allah………
Kini malam telah tiba di padang Arafah………
Dan di atas sajadah Bumi ini, di bawah mihrab langit-MU
Dengan segenap ketulusan kuserahkan kegelisahan,
pemberontakan, dan rinduku pada-Mu.

Ya Allah…..Ya Tuhanku………
Walau pun suara azan dibungkam Rumah-rumah-Mu digusur…..
Aku adalah hamba-Mu…. Yang takkan berhenti menyembah-Mu.
:Inna Shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamin……..
Aku ini adalah hamba-Mu yang takkan pernah lupa
: Sesungguhnya shalatku dan ibadahku hidupku dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan sekalian alam.

Ya Allah……Ya Tuhanku……..
Kapan lagi aku masuk ke arus sungai darah-Mu Jika tidak saat ini juga?????
Laut-Mu terlalu dalam untuk ku salami, tapi kelewat mengundang jika hanya ku pandang……..

Ya Allah……….Ya Tuhanku………
Aku terlalu lelah berperang melawan nafsu dan kesia-siaan…….
Yang memburuku dan mengintai dari rongga jiwaku.
Izinkan saat ini juga, aku masuk ke pori-pori tubuh-Mu,sembunyi dalam urat nadi-Mu

Agar terhindar dari segala tembakan dan tarlepas dari segala jebakan.
Izinkan pula ku minum darah-Mu tuk menjadi darahku yang kan mewarnai detak jantungku.

Cerita Cinta Abadi - Laila Majnun

Cerita Cinta Abadi - Laila Majnun

Jumat, 15 Oktober 2010

Dimanakah Kebahagiaan itu?

Menurut kamu dimana letak kebahagiaan itu ?
Seorang petani & istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan, lewatlah sebuah motor di depan mereka, berkatalah petani ini pada istrinya
“Lihatlah bu,betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai dirumah, tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai kerumah”.
Sementara itu pengendara sepeda motor & istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan melihat sebuah mobil pick up lewat didepan mereka, pengendara motor itu berkata kepada istrinya
“Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita”.
Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri terjadi perbincangan ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat dihadapan mereka
“Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu, mobil itu pasti nyaman di kendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok”.
Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, & ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya
“Betapa bahagianya suami istri itu, mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini, sementara aku & istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing”.
Kebahagiaan tak akan pernah kita miliki jika kita hanya melihat kebahagiaan milik orang lain & selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.
 
Pernah ada satu kisah seorang petani miskin, karena hidupnya menderita maka memutuskan untuk mencari emas diseluruh pelosok negeri tetapi apa yang dilakukannya sia-sia belaka dan akhirnya petani itu kembali ke kampungnya dan bekerja seperti biasanya. Sampai pada satu hari ketika sedang mencangkul di halaman belakang cangkulnya mengenai benda yang sangat keras. Ternyata benda keras itu adalah bongkaran emas. Petani itu tidak pernah menyangka apa yang dicarinya selama ini ditemukannya dihalaman rumahnya sendiri.

Begitulah perumpamaan kebahagiaan. Dimanakah kebahagiaan itu berada? Begitu kita keliling dunia untuk mencari kebahagiaan, ternyata kebahagiaan itu kita temukan di dalam diri kita sendiri.

Semua yang menjadi milik kita di dunia ini seperti harta, pasangan hidup, jabatan adalah sementara. Kita hanya bisa merasakan kebahagiaannya sebentar saja yaitu sepanjang hidup kita. Lantas dimanakah kebahagiaan yang sejati itu? Dimanakah kebahagiaan yang sesungguhnya bagi kita?

Bagi sebagian orang yang percaya bahwa hidup itu hanyalah kehidupan di dunia dan tidak percaya adanya kehidupan akherat maka hidupnya akan menghabiskan waktunya hanya untuk bersenang-senang, justru diliputi kecemasan karena takut kehabisan waktu untuk menikmati hidupnya. Mereka akan melakukan apapun asal 'bahagia' untuk mendapatkan yang mereka inginkan namun yang terjadi hanya mendapatkan siksaan dan penderitaan. Sedangkan bagi orang yang beriman, kebahagiaan di dunia adalah semu. Kebahagiaan yang hakiki adalah berada disisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Di Tempat yang sungguh bahagia, disisi Tuhan Yang Menguasai segala-galanya,' (QS. al-Qomar : 55)

Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tau di mana kebahagiaan itu berada.